Selamatan di Tengah Sungai untuk Menjaga Mata Air
SEPEKAN setelah adanya perayaan gugur gunung di DESA RAMBAN Kulon, Cermee, ada proses yang bernama Panyuntengan. Tradisi ini adalah tradisi selamatan warga desa untuk menjaga mata air yang membuat daerah sekitar yang dahulunya tandus menjadi subur. ( SHOLIKHUL HUDA )
AWAL pekan lalu, warga Desa Ramban Kulon, Cermee melaksanakan selamat Gugur Gunung. Yakni acara selamatan desa yang berpusat di Komplek pesarean (makam, Red) Raden Imam Asy'ari. Di sebuah masjid dekat makam itulah warga mengadakan selamatan. Mereka membawa nampan yang berisi tumpeng. Saat itu warga berdoa untuk keselamatan desa dilanjutkan dengan tradisi ojung.
Sepekan acara itu, masih ada tradisi yang merupakan keberlanjutan tradisi Gugur Gunung, yakni tradisi Penyuntengan. Tradisi ini adalah tradisi selamatan yang titiknya di sumber mata air."Warga berdoa bersama-sama agar sumber mata air itu tetap terjaga dan bisa memberi barokah kepada seluruh warga diRamban Kulon dan sekitarnya," ujar Andre Mustafa, warga Dusun Krajan III, Desa Ramban Kulon.
Kegiatan itu dilaksanakan awak pekan lalu (14/11). Koordinatornya adalah Fathor Rahman, Juru Kunci Makam Raden Imam Asy'ari. Kegiatan awal, warga membaawa nasi tumpeng dan nasi berkatan. Ada beberapa titik yang menjadi kunjungan sebelum akhirnya melakukan selamatan di sungai.






